Edy Tuhirman: Sukses Itu Proses, Bukan Hasil

Edy Tuhirman: Sukses Itu Proses, Bukan Hasil

Banyak orang menghalalkan segala cara untuk mencapai puncak kesuksesan. Mereka hanya ingin memetik hasil dengan cara-cara instan, tanpa mau melewati proses yang panjang dan sulit. Padahal, kesuksesan lahir dari kerja keras. Bahkan, kesuksesan sejatinya adalah proses kerja keras itu sendiri.

Ibarat meniti deretan anak tangga, kesuksesan yang diraih seseorang bukanlah saat ia mencapai anak tangga terakhir. Setiap anak tangga yang didaki, itulah kesuksesan yang sesungguhnya. Maka jika ingin mengenyam kesuksesan, nikmatilah setiap prosesnya, meski proses itu harus dilalui dengan susah payah.

“Sukses itu tidak ada ukurannya. Menurut saya, sukses adalah sebuah perjalanan yang harus dinikmati prosesnya, bukan hasilnya,” kata Edy Tuhirman kepada wartawati Investor Daily Nida Sahara di Jakarta, baru-baru ini.

Chief Executive Officer (CEO) PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia ini punya terminologi sendiri tentang kesuksesan. Bagi Edy, apabila seseorang sudah merasa dirinya sukses, berarti ia sudah berada di titik puncak.

“Ia akan bertahan di titik itu saja, stagnan, tidak berkembang lagi,” tegas dia.

Karena alasan itulah ayah dua anak ini sangat menikmati setiap proses dalam perjalanan kariernya. Pria kelahiran 1964 itu menganggap pencapaiannya sejauh ini semata-mata merupakan rangkaian proses yang sedang dijalaninya.

“Bahwa dalam proses karier ada naik dan ada turun atau ada senang dan ada sedih, itu hal normal,” tutur Edy yang sudah 25 tahun lebih malang melintang di industri asuransi, perbankan, dan pasar modal, serta berpengalaman dalam tata kelola perusahaan nasional dan multinasional.

Edy percaya setiap mimpi bisa diraih asalkan diperjuangkan dengan sepenuh hati dan pikiran, dengan cara-cara positif. “Mimpi harus dikejar, jangan mudah menyerah. Kejar dengan segenap hati dan pikiran, kejar dengan segala daya dan upaya,” ujar Edy yang aktif di Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) selaku Ketua, merangkap Ketua Bidang Keuangan, Pajak dan Investasi.

Yang pasti, Edy Tuhirman telah berhasil membawa Generali Indonesia –bagian dari Generali Group, salah satu perusahaan asuransi terbesar di Eropa asal Italia-- masuk enam besar perusahaan asuransi di Tanah Air. Generali hanya membutuhkan waktu delapan tahun di tengah ketatnya persaingan perusahaanperusahaan asuransi asing.

Apa saja kiat sukses Edy Tuhirman? Bagaimana ia menerapkan nilai-nilai kepemimpinan? Berikut penuturan lengkapnya:

Bagaimana perjalanan karier Anda sampai berada di posisi saat ini?
Saya sekolah di elektro, dimana saya belajar tentang logika bahwa problem itu bisa tidak terlihat wujudnya, sehingga perlu imajinasi untuk menyelesaikannya. Ini menjadi bahan latihan otak yang baik untuk pola pikir.

Dari situ, supaya orang tua saya tidak rugi telah membiayai saya sekolah, saya masuk ke perusahaan tambang. Saya bekerja di PT Freeport Indonesia selama tiga tahun. Di sana, saya benarbenar sebagai engineer. Setelah itu saya sekolah lagi.

Saya kemudian kembali ke mimpi awal menjadi bankir. Waktu itu, Citibank datang ke kampus saya mencari talent. Terjaringlah saya. Saya mulai lagi dari level paling bawah, level management associate. Dari situ, saya mulai tumbuh di dunia keuangan. Di Citibank mulai tahun 1991, saya lima tahun di sana. Setelah itu, saya ke Lippo Life, AIG, kemudian ke Bank Danamon, ke Amex, Bank Danamon lagi, dan ke Generali hingga saat ini.

Generali saya bangun 10 tahun lalu sebagai pegawai pertama dan saat ini sudah sekitar 400 orang. Dari ranking paling bawah, sekarang di ranking ke-6 atau ke-7 di antara pemain asing di Indonesia. Memang penuh dengan perjuangan untuk mencapai angka ini, tapi bukan the end, ini adalah journey menuju tahap berikutnya.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?
Saya masih ingat ketika SD, ada semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Itu memberi saya inspirasi. Kalau menjadi pemimpin atau berada di depan, kita harus menjadi teladan. Kalau di tengah harus menjadi teman, dan kalau di belakang harus menjadi pendorong atau motivator. Itulah yang saya gunakan.

Nilai-nilai yang Anda pegang dalam karier?
Saya percaya bisnis kami di asuransi adalah bisnis kejujuran dan inovasi. Dua hal itu tidak bisa ditawar dan selalu menjadi pegangan. Biasanya saya sangat direct, tidak pakai bahasa yang berbelit, katakan apa yang diinginkan dan dipikirkan. Jadi, tidak perlu menebak-nebak apa maksud dari perkataan.

Nilai-nilai itu Anda tanamkan juga kepada karyawan?
Generali punya empat nilai, yaitu deliver on the promise, value our people, live the community, dan be open. Dalam deliver on the promise, kami mengikat perjanjian berbasis rasa saling percaya jangka panjang dengan seluruh pemangku kepentingan. Segala hal yang kami kerjakan selalu bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup nasabah-nasabah kami.

Kemudian dalam value our people, kami menghargai orangorang yang bekerja untuk kami, mendukung keberagaman, dan berinvestasi dalam pembelajaran dan pengembangan diri mereka, dengan menciptakan lingkungan kerja yang transparan, kohesif, dan terbuka.

Adapun dalam live the community, kami bangga menjadi bagian dari sebuah perusahaan global dengan relasi yang kuat, berkelanjutan, dan jangka panjang pada setiap pasar di mana kami beroperasi. Pasar adalah rumah bagi kami.

Lalu be open adalah dimana kami memiliki rasa keingintahuan yang besar, mudah dijangkau, dan memberdayakan orang-orang dengan pola pikir yang terbuka dan beragam, serta memiliki kemauan untuk melihat dari perspektif yang berbeda.

Jika nilai-nilai yang saya pegang sejalan dengan nilai-nilai yang dianut perusahaan, itu akan mudah. Nilai-nilai itu tidak hanya dibicarakan di mulut saja, tapi harus dilakukan. Jadi, sebagai pemimpin, saya harus dapat menjadi teladan yang baik bagi tim dan karyawan.

Obsesi Anda untuk perusahaan?
Kami sudah melangkah cukup jauh. Kalau diibaratkan anak, Generali sudah memasuki masa anak-anak menuju remaja. Tapi kami ingin menjadi remaja yang cerita, bermain, dan inovatif. Kemudian saya ingin Generali menjadi pilihan bagi nasabah. Saya melihat ada sesuatu yang menarik di dunia asuransi ini. Sudut pandang asuransi di mata masyarakat harus kita ubah.

Untuk orang yang sudah memiliki asuransi, unit linked, saat investasi naik kita senang, namun ketika turun jadi sedih. Jadi, tidak memiliki kontrol. Generali memiliki fitur inovatif yang disebut auto risks management system (ARMS). Seperti rem mobil, saat naik kami biarkan naik, namun saat turun kami amankan ke investasi yang lebih rendah resikonya Unit linked di Indonesia tidak dapat direm, namun Generali dapat memberikan proteksi seumur hidup. Dengan konsep proteksi, saya ingin orang Indonesia pada masa tuanya hidup dengan nyaman dan sehat fisik maupun finansialnya.

Dunia kedokteran sudah semakin maju, seharusnya banyak penyakit yang dapat disembuhkan tapi biaya makin mahal. Jika tidak punya asuransi akan susah, karena itu harus disiapkan sisi finansialnya. Misalnya orang yang berusia 35 tahun, setiap bulan nabung Rp 1,5 juta, dalam setahun dapat Rp 18 juta. Jika ingin mendapat Rp 1,2 miliar, dia harus menabung selama 67 tahun. Namun di Generali, hanya perlu menabung selama 20 tahun secara konsisten dengan iPLAN, dia akan mendapat Rp 1,2 miliar pada usia 85 tahun. Belum lagi manfaat kesehatan yang bisa didapatkan hingga usia 90 tahun.

Gambaran Anda tentang industri asuransi ke depan?
Pertumbuhannya akan sangat pesat karena yang memiliki asuransi masih sangat sedikit. Middle class Indonesia terus bertambah, ini akan menjadi potensi yang sangat besar. Itu sebabnya, saya tidak takut kompetisi. Berkompetisi itu jika pasarnya kecil. Namun jika pasarnya besar, tidak akan ada kompetisi. ‘Kuenya’ kan besar untuk dibagi bersama.

Dampak disrupsi teknologi terhadap industri asuransi?
Seiring dengan tren perkembangan teknologi, disrupsi pasti akan terjadi. Kami melihatnya menjadi tiga yakni, artificial intelligence, block chain dan cloud. Ketiga hal ini tentu saja mempengaruhi banyak industri, termasuk industri asuransi. Kami juga masuk ke situ, tapi kami memulainya dari internal terlebih dahulu. Jadi, karyawan dan agen dulu yang dibekali kemampuan teknologi, baru rangkaian digitalisasi terus kami kembangkan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi nasabah.

Di segi front end, misalnya saja kita lihat, dulu orang belanja ritel ke mal, namun saat ini beralih ke online. Tapi apakah asuransi begitu? Saya lihat, dalam jangka pendek belum. Kami tetap butuh orang, seperti agen, karena asuransi itu perlu tatap muka. Namun dalam jangka panjang mungkin saja disrupsi akan terjadi. Dampaknya ke Generali mungkin akan terjadi efisiensi dan nasabah akan senang.

Dulu, surat pengajuan asuransi jiwa (SPAJ) dari Makassar ke Jakarta butuh beberapa hari. Suatu saat nanti, orang beli asuransi, lalu beberapa jam kemudian datang polisnya. Itu akan terjadi nanti.

Unit linked tidak terpengaruh gejolak ekonomi global?
Kita harus bicara jangka panjang. Jika ‘batuk’ sedikit sangat wajar, karena tidak bisa sehat terus. Ini hanya sementara, jangka pendek, dan penyebabnya faktor eksternal. Saya yakin jangka panjang akan lebih bagus. Sekarang perekonomian kita memang sedikit drop. Tapi bukan hanya Indonesia yang mengalami hal ini. Banyak negara yang lebih parah dari kita. Ini normal, ada ‘batuk’ dan ‘pilek’, sementara saja.

Ukuran sukses menurut Anda?
Sukses itu tidak ada ukurannya, sukses itu perjalanan. Jika orang sudah merasa sukses, berarti dia sudah sampai pada titiknya, akan bertahan di titik itu saja, stagnan, tidak berkembang lagi. Maka nikmati prosesnya, bukan hasilnya.

Kiat Anda mencapai kesuksesan?
Bagi saya begini, kita harus kejar mimpi kita, tidak boleh mudah menyerah. Apa pun yang kita impikan, kejar dengan segenap hati dan pikiran, dengan segala upaya, tentu upaya yang positif. Proses dalam karier ada naik, ada juga turun, ada senang dan sedih, itu normal.

Fokus saja ke mimpi kita, kemudian kejar, dan jangan menyerah. Filosofi saya, kejarlah mimpimu, jangan mudah menyerah, lakukan dengan segenap hati dan pikiran.

Seberapa penting integritas bagi kesuksesan seseorang?
Value-value yang saya pegang, yakni kejujuran, tidak berbelit dalam berbicara, dan inovatif. Nilai-nilai itu sangat membantu. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama dan reputasi. Indonesia memiliki banyak penduduk yang mencapai 260 juta orang, tapi di dunia keuangan tidak banyak, hanya itu-itu saja. Kalau kami berbuat yang ‘aneh-aneh’, semua orang pasti tahu. Jadi, jangan bikin yang aneh-aneh.

Mimpi Anda yang belum terwujud?
Untuk industri, saya sedang membangun ‘pipa’ dengan wakaf di ekonomi syariah. Kekayaan orang yang lebih mampu akan masuk ke pipa itu untuk kepentingan masyarakat banyak. Ini yang sedang kami bangun sejak awal tahun. Memang tidak mudah, belum tentu banyak orang yang siap berwakaf.

Ini mimpi yang perlu dikejar. Konsepnya sangat menarik. Keuntungan di asuransi Syariah dibagikan kembali atau bagi hasil ke pemegang polis seperti konsep koperasi, tapi jika rugi perusahaan asuransi yang tanggung. Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia. Tapi tidak mudah membangunkan ‘orang tidur’. Padahal, jika sistem wakaf yang mulai kami bangun ini berjalan, hasilnya akan bagus sekali, semua akan sejahtera.

Pandangan Anda tentang keluarga?
Kalau orang bilang seimbang antara hidup, keluarga, dan kerja, bagi saya yang paling utama adalah keluarga. Jika keluarga tenteram dan aman, itu akan jadi fondasi, ke perusahaan juga jadi aman, tidak akan kepikiran yang aneh-aneh. Keluarga harus harmonis, komunikasi antara anak, bapak, dan ibu harus baik. Kalau ada masalah dibahas bersama-sama, kalau senang kita sharing.

Bagaimana dengan pekerjaan?
Harus dinikmati, jangan merasa bekerja. Jika merasa bekerja akan dibatasi waktu dan pikiran. Kalau pekerjaan bagian dari hidup, saya berasa ini adalah kehidupan saya. Jadi, waktu antara bekerja dan di rumah batasnya tipis sekali karena proses inovasi bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Keluarga juga mendukung sekali, dukungan mereka sangat penting bagi saya. Mereka dilibatkan sejak dini walaupun tidak langsung. Yang jelas, mereka tahu bapaknya kerja apa.

Siapa sumber inspirasi Anda?
Ada masa-masa tertentu, waktu kecil, bapak menjadi sumber inspirasi. Saat kuliah, ada dosen yang juga memberikan inspirasi yang luar biasa, karena kekaguman dengan kesederhanaan pola pikirnya. (*)

Sumber : investor.id

  • 27 Feb 2019
  • Surya Tjipto